Saya sampai detik ini masih menjadi seorang S, yaitu seorang yang cari uang lewat online dengan cara mandiri alias kerja sendiri. Bisnis yang saya miliki, saya lakukan sendiri. Sehingga saya bukan pebisnis sejati tetapi pekerja mandiri atau pebisnis kecil.
Kasus cari uang seperti saya ini, bila melihat Cashflow Quadrant versi Robert T Kiyosaki
Sering saya memikirkan bagaimana mencari karyawan walau cuma satu atau dua untuk mengurusi aktifitas cari uang via online bersama saya. Saya memikirkan hal ini dan berkata, “Bagaimana bila gak sesuai dengan yang diinginkan saya?”
Belum lagi masalah yang berkaitan dengan pembayaran karyawan. Saya masih bingung menangani hal pembagian uang ini.
Saya menjadi ketakutan sendiri bila memiliki karyawan yang akan mengurusi sebagian aktifitas online saya. Takut tidak sesuai dengan keinginan saya, takut berbuat licik pada saya, takut tidak bisa membayar karyawan, dll.
Saya mau tidak mau mengurusi sendiri, saya menjadi bos saya sendiri, saya cari uang sendiri dan keuntungan pun untuk sendiri. Tetapi walau begitu, saya merasa nyaman bila melakukan cari uang sendiri.
Inilah karakter dari kuadran S alias kuadran pekerja mandiri dan bisnis kecil bila masalah cari uang.
Robert T Kiyosaki berkata, “…orang-orang ‘S’ sering bereaksi dengan cara yang berbeda. Orang-orang dalam kuadran ini bereaksi terhadap rasa takut tidak dengan mencari rasa aman, tetapi dengan mengambil alih kendali keadaan dan melakukannya sendiri.”
Emosi takut seorang yang berjiwa pekerja (E) adalah dengan cari uang di tempat kerja dan mendapatkan pekerjaan yang mampu menghilangkan rasa takutnya. Sedangkan seorang yang berjiwa pekerja mandiri (S), emosi takutnya justru membuat dirinya mengambil alih segala aktifitas dalam cari uang.
Robert (2007 : 33) menganggap pekerja mandiri adalah seorang yang “perfeksionis” sejati. Pekerja mandiri ingin melakukan sesuatu dengan sangat baik. Apapun yang dilakukan dirinya belum tentu orang lain bisa melakukannya.
Seorang pekerja mandiri memang berjiwa mandiri. Sehingga bisa rela tidak mempunyai waktu untuk berkumpul dengan keluarga demi pekerjaan mandirinya itu. Seperti artis yang sibuk banting tulang syuting kesana kemari, seperti penyanyi yang rela konser ke daerah-daerah, dll.
Inilah keuntungan sendiri bagi para pebisnis dan lainnya yang ingin menyewa tenaga para pekerja mandiri. Karena kerjanya bisa sangat terlatih dan pintar. Memang sudah tertanam dalam jiwanya yaitu “ingin menampilkan yang terbaik untuk orang lain”.
Robert T Kiyosaki (2007 : 33) berkata,
“Dan itu sebabnya kita menyewa tenaga mereka. Jika memperkerjakan seorang ahli bedah otak, kita pasti ingin ia sangat terlatih dan berpengalaman, tapi yang penting, kita ingin ia seorang yang perfeksionis. Demikian juga halnya dengan dokter gigi, penata rambut, konsultan pemasaran, tukang ledeng, tukang listrik, pembaca kartu tarot, pengajara, atau pelatih korporat. Kita, sebagai klien yang menyewa tenaga orang ini, menginginkan yang terbaik.”
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Tampilkan postingan dengan label Cashflow Quadrant. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cashflow Quadrant. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 06 April 2013
Kamis, 04 April 2013
Cari Uang Kuadran Employe Dan Karakternya
Ketika saya ingin serius cari uang lewat internet alias kerja online, awalnya orang tua saya menganggap kerja ini bukan merupakan jaminan yang bisa menghidupi saya kelak. Karena mereka berkenginan saya ini kerja dan bisnis online alias cari uang lewat internet hanya sampingan saja.
Bahkan teman saya terus menawarkan pekerjaan sebagai guru, tetapi saya menolaknya. Teman saya berkata, “Kalau cari uang di internet, kasihan sama istri”. Maksudnya adalah bila cari uang di internet, mau kasih makan apa anak dan istri saya nanti kalau saya sudah nikah?
Saya berkata, “Justru saya kasihan sama istri saya nanti kalau saya cari uang lewat ngajar dan hanya jadi guru honorer”.
Maksud dari perkataan mereka untuk saya di atas adalah lebih kepada inti dari diri mereka yang menginginkan jaminan penghasilan, keamanan. Cari uang di internet dianggapnya penghasilan yang tidak pasti.
Dalam hal ini adalah dunia kuadran E alias kuadran pekerja (silahkan baca kategori : Cashflow Quadrant).
Robert Kiyosaki (2007 : 31) berkata, “Kalau mendengar kata ‘aman’ atau ‘tunjangan’ saya bisa menduga inti mereka.”
Kata aman selalu menjadi andalan orang yang mencari pekerjaan. Bila mereka bekerja, seolah hidup mereka aman dari tidak punya uang. Mereka yang bekerja mendapat kepastian bayaran tiap bulannya sehingga tidak perlu cemas memikirkannnya.
Robert (2007) menyatakan bahwa rasa aman seseorang dari kuadran E hanyalah sebagai reaksi terhadap rasa takut. Dari ketakutan ini memunculkan keinginan tentang keamanan. Keamanan diklaim bisa diraih hanya dengan bekerja.
Lebih bagus pekerjaan dalam arti mendapat gaji besar, tunjangan pensiun yang mencukupi, tunjangan-tunjangan lain maka semakin banyak orang yang ingin meraihnya.
Sehingga muncullah paradigma “Sekolah untuk Peringkat kelas” “Sekolah untuk ijazah”, “Sekolah untuk cari kerja”.
Pelajar (siswa dan mahasiswa) berlomba-lomba mendapatkan peringkat bagus di sekolah agar masa depan cerah. Akhirnya cara licik dalam mendapatkan peringkat kelas bagus pun dilakukan. Banyak pelajar yang menyontek saat ujian karena ingin nilai bagus.
Seolah-olah “Ilmu Tidak Ada Harga-nya…dan Nilai Angka adalah Harganya”
Belum lagi orang tua akan memarahi bila nilai anaknya jelek-jelek. Karena nilai jelek dianggapnya bodoh. Bila bodoh, maka masa depan anaknya akan mendapatkan pekerjaan yang rendah.
Banyak pelajar yang menginginkan ijazah. Tentu hal yang wajar bila pelajar mengharapkan ijazah. Tetapi seolah-olah ijazah adalah alat utama untuk cari uang. Walau pada kenyataanya memang ijazah adalah syarat utama melamar pekerjaan.
Banyak pelajar yang masuk sekolah tidak lain dan tidak bukan adalah dididik untuk menjadi pekerja. Apapun misi pendidikan dan sekolah, maka pelajar pada ujungnya akan bekerja untuk cari uang.
Sistem penting dari pemerintah ini yaitu pendidikan formal secara nilai inti adalah berada pada kuadran E.
Seorang yang jiwa E alias jiwa pekerjanya kuat maka tidak akan sanggup menjalani sebuah bisnis. Karena bisnis adalah kegiatan yang tidak ada kepastian penghasilan.
Semakin banyak orang yang memiliki jiwa pekerja yang kuat maka akan semakin sesak persaingan pada sektor pekerja. Cari uang pun akhirnya makin sulit karena tidak ada keterampilan dan jiwa lain kecuali keterampilan dan jiwa kerja.
Jadi, tidak ada keseimbangan dalam hal cari uang.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Bahkan teman saya terus menawarkan pekerjaan sebagai guru, tetapi saya menolaknya. Teman saya berkata, “Kalau cari uang di internet, kasihan sama istri”. Maksudnya adalah bila cari uang di internet, mau kasih makan apa anak dan istri saya nanti kalau saya sudah nikah?
Saya berkata, “Justru saya kasihan sama istri saya nanti kalau saya cari uang lewat ngajar dan hanya jadi guru honorer”.
Maksud dari perkataan mereka untuk saya di atas adalah lebih kepada inti dari diri mereka yang menginginkan jaminan penghasilan, keamanan. Cari uang di internet dianggapnya penghasilan yang tidak pasti.
Dalam hal ini adalah dunia kuadran E alias kuadran pekerja (silahkan baca kategori : Cashflow Quadrant).
Robert Kiyosaki (2007 : 31) berkata, “Kalau mendengar kata ‘aman’ atau ‘tunjangan’ saya bisa menduga inti mereka.”
Kata aman selalu menjadi andalan orang yang mencari pekerjaan. Bila mereka bekerja, seolah hidup mereka aman dari tidak punya uang. Mereka yang bekerja mendapat kepastian bayaran tiap bulannya sehingga tidak perlu cemas memikirkannnya.
Robert (2007) menyatakan bahwa rasa aman seseorang dari kuadran E hanyalah sebagai reaksi terhadap rasa takut. Dari ketakutan ini memunculkan keinginan tentang keamanan. Keamanan diklaim bisa diraih hanya dengan bekerja.
Lebih bagus pekerjaan dalam arti mendapat gaji besar, tunjangan pensiun yang mencukupi, tunjangan-tunjangan lain maka semakin banyak orang yang ingin meraihnya.
Sehingga muncullah paradigma “Sekolah untuk Peringkat kelas” “Sekolah untuk ijazah”, “Sekolah untuk cari kerja”.
Pelajar (siswa dan mahasiswa) berlomba-lomba mendapatkan peringkat bagus di sekolah agar masa depan cerah. Akhirnya cara licik dalam mendapatkan peringkat kelas bagus pun dilakukan. Banyak pelajar yang menyontek saat ujian karena ingin nilai bagus.
Seolah-olah “Ilmu Tidak Ada Harga-nya…dan Nilai Angka adalah Harganya”
Belum lagi orang tua akan memarahi bila nilai anaknya jelek-jelek. Karena nilai jelek dianggapnya bodoh. Bila bodoh, maka masa depan anaknya akan mendapatkan pekerjaan yang rendah.
Banyak pelajar yang menginginkan ijazah. Tentu hal yang wajar bila pelajar mengharapkan ijazah. Tetapi seolah-olah ijazah adalah alat utama untuk cari uang. Walau pada kenyataanya memang ijazah adalah syarat utama melamar pekerjaan.
Banyak pelajar yang masuk sekolah tidak lain dan tidak bukan adalah dididik untuk menjadi pekerja. Apapun misi pendidikan dan sekolah, maka pelajar pada ujungnya akan bekerja untuk cari uang.
Sistem penting dari pemerintah ini yaitu pendidikan formal secara nilai inti adalah berada pada kuadran E.
Seorang yang jiwa E alias jiwa pekerjanya kuat maka tidak akan sanggup menjalani sebuah bisnis. Karena bisnis adalah kegiatan yang tidak ada kepastian penghasilan.
Semakin banyak orang yang memiliki jiwa pekerja yang kuat maka akan semakin sesak persaingan pada sektor pekerja. Cari uang pun akhirnya makin sulit karena tidak ada keterampilan dan jiwa lain kecuali keterampilan dan jiwa kerja.
Jadi, tidak ada keseimbangan dalam hal cari uang.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Selasa, 02 April 2013
Mampu Menghasilkan Uang Lewat 4 Sumber Penghasil Uang
Apakah anda pernah berpikir waktu sekolah tingkat menengah atas (setingkat SMA) tentang, “bagaimana cara menghasilkan uang dengan ilmu saya?”
Bila anda sudah pernah bertanya begitu mungkin anda akan merasa bahwa sekolah sangat sia-sia mengajari anda mengenai ilmu yang tidak ada gunaannya “untuk menghasilkan uang”.
Maaf, saya mengatakan uang bukan saya matre, tetapi lebih kepada tujuan inti kita menempuh pendidikan alias mencari ilmu. Tujuan kita mencari ilmu adalah untuk mencari penghasilan yaitu penghasilan lahir dan penghasilan batin. Bila penghasilan lahir maka yang penting adalah UANG.
Di sekolah ada mata pelajaran Biologi, MTK, Fisika, Kimia, dll, tetapi pernahkah anda diajarkan bagaimama memanfaatkan ilmu-ilmu yang secara riil untuk kepentingan keterampilan tenaga kerja?
Bila anda jujur, pasti akan mengatakan TIDAK. Tetapi bila anda sekolah di SMK, maka ceritanya lain. Di SMK memang diajarkan keterampilan kerja tetapi biayanya (katanya) mahal apalagi yang berkaitan teknologi.
Jadi jangan salahkan orang tua dari desa terpencil yang melarang anaknya untuk sekolah dan lebih memilih untuk mencari uang. Karena anda pun merasakan sendiri bahwa pengajaran yang diberikan masih tanda tanya untuk “kerja”.
Lebih-lebih, keterampilan dalam menghasilkan uang bukan dari jalur pekerjaan saja tetapi juga dari tiga jalur alias kuadran yaitu kuadran kerja mandiri, kuadran bisnis dan dan kuadran investasi.
Bila pemerintah belum mampu membuat sistem pendidikan pada keterampilan menghasilkan uang di era informasi ini dan masih fokus membuat lulusan asal-asalan (tidak seperti SMK) maka akan banyak lulusan SMA tidak memakai ilmunya.
Padahal bila pemerintah sendikit saja memberikan stimulan berupa pendidikan keterampilan kerja di SMA, maka masalah persaingan ketat pada satu sektor akan berkurang. Maksud satu sektor yang persaingannya ketat adalah di sektor kerja.
Saya sangat setuju program pendidikan SMK yang langsung memberikan jurusan-jurusan skil kerja di masing-masing sekolah. Ada SMK Teknik, SMK Perhotelan, SMK Perhutanan, SMK Perkebunan, SMK Tata Boga, dll.
Nanti nambah lagi SMK Matematika, SMK Biologi, SMK Fisika, dll. Yang kegunannya untuk tenaga kerja bagian pendidikan dan keilmuan.
Karena dari keterampilan kerja akan membentuk keterampilan-keterampilan lain seperti kerja mandiri, bisnis. Karena kebanyakan orang bila sudah mahir membuat sesuatu maka bisa juga untuk bisnis sesuatu hasil buatannya sendiri.
Tetapi bila pemerintah selalu tidak peduli mengenai pendidikan SMA yang mereka berikan untuk rakyat, maka lebih baik bangunlah gaya belajar sesuai keinginan masing-masing pelajar agar tidak mengikuti arus yang membuat hidup lulusan SMA tidak pasti.
Untuk itulah Robert T Kiyosaki memberikan arahan. Robert berkata (2007 : 15),
“Kebanyakan dari kita berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Kuadran mana yang anda atau saya pilih untuk memperoleh penghasilan utama kita tidak terlalu tergantung pada apa yang kita pelajari di sekolah; hal ini lebih tergantung pada siapa diri kita pada intinya---nilai, kekuatan, kelemahan, dan minat inti kita. Perbedaan inti inilah yang menarik atau menolak kita dari keempat kuadran.”
Keempat kuadran adalah kerja, kerja mandiri, bisnis dan investasi.
Lanjut Robert Kiyosaki (2007), “Namun, tak peduli apa yang kita ‘lakukan’ secara profesional, kita masih dapat bekerja di keempat kuadran. Sebagai contoh, seorang dokter medis bisa memilih mendapat penghasilan sebagai seorang ‘E’, seorang pegawai.
Maksud “E” adalah karyawan alia pekerja
Tetapi menurut Robert (2007 : 15), dokter juga bisa memperoleh penghasilan sebagai S alias pekerja mandiri yang membuka praktek (yang biasanya di samping rumahnya) dan membuat daftar klien pribadi.
Atau dokter bisa menjadi seorang B alias pebisnis yang memanfaatkan skil kedokterannya sehingga ia memiliki penghasilan di luar jalur kerja. Menurut Robert (2007 : 15), mungkin saja dokter itu menyewa seorang manajer bisnis untuk menjalankan organisasinya.
Seorang dokter pun bisa melakukan investasi dari berbagai jenis dan kelas sehingga penghasilan tidak melulu dari jalur skil dirinya.
Itulah gambaran bila sesorang berawal dari memiliki skil kerja. Memiliki skil kerja alias keterampilan kerja yang mampu menduduki kuadran kerja, kerja mandiri dan kuadran bisnis plus ditambah kuadran investasi.
Spirit ilmu keterampilan kerja itulah yang mampu membangkitkan gairah lain sebagai cara untuk menghasilkan uang alias penghasilan.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Bila anda sudah pernah bertanya begitu mungkin anda akan merasa bahwa sekolah sangat sia-sia mengajari anda mengenai ilmu yang tidak ada gunaannya “untuk menghasilkan uang”.
Maaf, saya mengatakan uang bukan saya matre, tetapi lebih kepada tujuan inti kita menempuh pendidikan alias mencari ilmu. Tujuan kita mencari ilmu adalah untuk mencari penghasilan yaitu penghasilan lahir dan penghasilan batin. Bila penghasilan lahir maka yang penting adalah UANG.
Di sekolah ada mata pelajaran Biologi, MTK, Fisika, Kimia, dll, tetapi pernahkah anda diajarkan bagaimama memanfaatkan ilmu-ilmu yang secara riil untuk kepentingan keterampilan tenaga kerja?
Bila anda jujur, pasti akan mengatakan TIDAK. Tetapi bila anda sekolah di SMK, maka ceritanya lain. Di SMK memang diajarkan keterampilan kerja tetapi biayanya (katanya) mahal apalagi yang berkaitan teknologi.
Jadi jangan salahkan orang tua dari desa terpencil yang melarang anaknya untuk sekolah dan lebih memilih untuk mencari uang. Karena anda pun merasakan sendiri bahwa pengajaran yang diberikan masih tanda tanya untuk “kerja”.
Lebih-lebih, keterampilan dalam menghasilkan uang bukan dari jalur pekerjaan saja tetapi juga dari tiga jalur alias kuadran yaitu kuadran kerja mandiri, kuadran bisnis dan dan kuadran investasi.
Bila pemerintah belum mampu membuat sistem pendidikan pada keterampilan menghasilkan uang di era informasi ini dan masih fokus membuat lulusan asal-asalan (tidak seperti SMK) maka akan banyak lulusan SMA tidak memakai ilmunya.
Padahal bila pemerintah sendikit saja memberikan stimulan berupa pendidikan keterampilan kerja di SMA, maka masalah persaingan ketat pada satu sektor akan berkurang. Maksud satu sektor yang persaingannya ketat adalah di sektor kerja.
Saya sangat setuju program pendidikan SMK yang langsung memberikan jurusan-jurusan skil kerja di masing-masing sekolah. Ada SMK Teknik, SMK Perhotelan, SMK Perhutanan, SMK Perkebunan, SMK Tata Boga, dll.
Nanti nambah lagi SMK Matematika, SMK Biologi, SMK Fisika, dll. Yang kegunannya untuk tenaga kerja bagian pendidikan dan keilmuan.
Karena dari keterampilan kerja akan membentuk keterampilan-keterampilan lain seperti kerja mandiri, bisnis. Karena kebanyakan orang bila sudah mahir membuat sesuatu maka bisa juga untuk bisnis sesuatu hasil buatannya sendiri.
Tetapi bila pemerintah selalu tidak peduli mengenai pendidikan SMA yang mereka berikan untuk rakyat, maka lebih baik bangunlah gaya belajar sesuai keinginan masing-masing pelajar agar tidak mengikuti arus yang membuat hidup lulusan SMA tidak pasti.
Untuk itulah Robert T Kiyosaki memberikan arahan. Robert berkata (2007 : 15),
“Kebanyakan dari kita berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Kuadran mana yang anda atau saya pilih untuk memperoleh penghasilan utama kita tidak terlalu tergantung pada apa yang kita pelajari di sekolah; hal ini lebih tergantung pada siapa diri kita pada intinya---nilai, kekuatan, kelemahan, dan minat inti kita. Perbedaan inti inilah yang menarik atau menolak kita dari keempat kuadran.”
Keempat kuadran adalah kerja, kerja mandiri, bisnis dan investasi.
Maksud “E” adalah karyawan alia pekerja
Tetapi menurut Robert (2007 : 15), dokter juga bisa memperoleh penghasilan sebagai S alias pekerja mandiri yang membuka praktek (yang biasanya di samping rumahnya) dan membuat daftar klien pribadi.
Atau dokter bisa menjadi seorang B alias pebisnis yang memanfaatkan skil kedokterannya sehingga ia memiliki penghasilan di luar jalur kerja. Menurut Robert (2007 : 15), mungkin saja dokter itu menyewa seorang manajer bisnis untuk menjalankan organisasinya.
Seorang dokter pun bisa melakukan investasi dari berbagai jenis dan kelas sehingga penghasilan tidak melulu dari jalur skil dirinya.
Itulah gambaran bila sesorang berawal dari memiliki skil kerja. Memiliki skil kerja alias keterampilan kerja yang mampu menduduki kuadran kerja, kerja mandiri dan kuadran bisnis plus ditambah kuadran investasi.
Spirit ilmu keterampilan kerja itulah yang mampu membangkitkan gairah lain sebagai cara untuk menghasilkan uang alias penghasilan.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Selasa, 26 Februari 2013
Informasi Cashflow Quadrant Tentang Bisnis Kecil Dan Besar
Saya ingin menjelaskan mengenai apa itu Cashflow Quadrant sebelum membahas bagaimana menjelaskan informasi bisnis kecil dan besar dalam Cashflow Quadrant?
Robert T Kiyosaki berkata (2008 : 28),
“Buku kedua saya dalam seri Rich Dad adalah Rich Dad’s CASHFLOW Quadrant. Banyak orang mengatakan bahwa itulah buku saya yang terpenting karena sangat membuka mata. Saya menulis buku itu untuk siapapun yang siap berubah dalam hidup… perubahan yang jauh lebih besar daripada sekedar berpindah-pindah kerja.”
Maksud dari perkataan Robert Kiyosaki adalah buku Cashflow Quadrant memang menjelaskan tentang sumber-sumber uang dari masing-masing kuadran, tetapi yang menjadi fokus dan tujuan utama adalah mengutamakan kuadran bisnis dan investasi.
Saya akan menjelaskan kuadran-kuadran sumber uang menurut Robert Kiyosaki.
A. Kuadran kiri terdiri dari:
- E = singkatan dari kata “Employe” yang artinya karyawan/tenaga kerja/buruh.
- S = singkatan dari “Self-Employe” yang artinya orang yang bekerja sendiri alias kerja mandiri atau S bisa disebut juga “Small Busines Owner yang artinya pengusaha kecil”
Kuadran kiri disebut juga dengan kuadran zona aman.
B. Kuadran kanan terdiri dari:
- B = singkatan dari “Business Owner” yang identik dengan “Big Business” yang artinya pemilik bisnis, bisnis besar.
- I = Investasi yang artinya adalah menanam modal.
Kuadran kanan disebut juga kuadran zona bebas.
Saya akan menjelaskan mengenai informasi kuadran E.
Robert berkata (2008 : 29),
“Cara mengetahui anda berada di kuadran mana ditentukan dari kuadran mana uang anda bersumber. Dengan kata lain, kalau anda menerima penghasilan dari sebuah pekerjaan dan anda menerima gaji tetap dari perusahaan atau bisnis yang bukan milik anda, maka uang akan mengalir keluar dari kuadran E.”
Orang seperti ini mengandalkan keamanan finansial dan keterjaminan dengan tunjangan-tunjangan. Sifat dari pekerja alias dari kuadran E biasannya adalah manja secara finansial.
Lalu menjelaskan mengenai kuadran S.
Robert Kiyosaki berkata (2008 : 29), “
Kalau anda hidup dari komisi atau menerima uang dari pekerjaan yang dihitung per jamnya, maka anda mungkin berada dalam kuadran S. kebanyakan wiraniaga yang mendapat komisi langsung, seperti agen real estat, adalah dari kuadran S.”
Lanjut Robert (2008 : 29), “Kuadran S bisa juga termasuk para profesional seperti pengacara dan dokter.”
Orang dari kuadran S adalah: penjahit, tukang servis, tukang bangunan, dai, seniman, dll
Orang yang berasal dari kuadran S biasanya orang yang mandiri secara finansial karena dapat uang atau tidak tergantung kegigihan dia mencari uang. Semakin gigih mencari uang bisa meningkat keuangannya walau dalam segi waktu semakin tidak punya waktu untuk hal lain.
Kuadran S bisa juga kuadran untuk kelas bisnis kecil yang melakukan aktifitas bisnis secara langsung alias terlibat langsung dalam aktifitas bisnis
Tetapi ada kendala, Robert menjelaskan bahwa dalam informasi bisnis ada yang namanya bisnis kecil dan ada yang namanya bisnis besar. Kedua bisnis itu berada pada kuadran yang berbeda.
Setelah E dan S sudah saya jelaskan, gilirannya menjelaskan kuadran kanan yaitu B dan I.
Robert Kiyosaki berkata (2008 : 30),
“Kalau penghasilan anda berasal dari bisnis yang anda tidak perlu terlibat, maka anda berada di kuadran ‘B’. kalau penghasilan anda berasal dari investasi, maka anda berada di kuadran ‘I’. kalau penghasilan anda berasal dari renacna pensiun perusahaan atau pemerintah, maka kemungkinannya adalah penghasilan lebih dari kuadran E. Mungin juga seserang menerima penghasilan lebih dari satu kuadran.”
Orang yang berasal dari kuadran “B” adalah orang yang mandiri secara finansial sama halnya orang dari kuadran “S”. bedanya adalah kalau orang kuadran B lebih punya banyak waktu walau punya beberapa bisnis besar.
Sedangkan orang dari kuadran “I” lebih kepada orang yang malas secara finansial. Artinya ingin mendapatkan uang tidak mau berusaha karena memang uang investasi akan sendirinya menghasilkan uang untuk si pemilik investasi tersebut.
Sekarang, saya akan memberikan informasi bisnis kecil dan besar.
Apa sih perbedaan antara bisnis kecil dan bisnis besar? Saya sendiri masih bingung dari pendapat Kiyosaki karena informasi menunjukkan bahwa banyak bisnis kecil tetapi berjalan tanpa perlu terlibat langsung.
Seperti bisnis milik tetangga saya yang kerja kantoran. Ia membuka kios untuk bisnis yang kerjanya mengenai rental komputer, jasa ketik, cetak foto, foto kopy. Bisnisnya pun diurus beberapa sodaranya tanpa perlu melibatkan si pemilik usaha.
Menurut Robert (2008 : 30) mengatakan bahwa pengusaha pemilik bisnis besar bisa meninggalkan usahanya selama satu tahun atau lebih dan ketika kembali mendapati bisnisnya semakin lancar. Lalu ia membandingkan dengan pengusaha pemilik bisnis kecil yang konon bisnis kecil tidak bisa ditinggal oleh pemiliknya karena masih butuh untuk terlibat langsung.
Yang jelas saya memiliki pendapat sendiri, bisnis besar adalah memiliki sistem-sistem bisnis yang terorganisir. Artinya ada ada sistem penerimaan karyawan, sistem aturan, sistem pengangkatan jabatan, sistem pemecatan, sistem gaji, dan sistem-sistem lain yang terorganisir.
Sedangkan bisnis kecil adalah memiliki sistem yang tidak terorganisir. Memang punya karyawan tetapi belum tentu karyawan hasil seleksi. Bisa saja saudara sendiri dimasukkan semua secara sukarela.
Referensi: Robert T Kiyosaki, Business School, Terj, Gramedia, Jakarta, 2008
Robert T Kiyosaki berkata (2008 : 28),
“Buku kedua saya dalam seri Rich Dad adalah Rich Dad’s CASHFLOW Quadrant. Banyak orang mengatakan bahwa itulah buku saya yang terpenting karena sangat membuka mata. Saya menulis buku itu untuk siapapun yang siap berubah dalam hidup… perubahan yang jauh lebih besar daripada sekedar berpindah-pindah kerja.”
Maksud dari perkataan Robert Kiyosaki adalah buku Cashflow Quadrant memang menjelaskan tentang sumber-sumber uang dari masing-masing kuadran, tetapi yang menjadi fokus dan tujuan utama adalah mengutamakan kuadran bisnis dan investasi.
Saya akan menjelaskan kuadran-kuadran sumber uang menurut Robert Kiyosaki.
A. Kuadran kiri terdiri dari:
- E = singkatan dari kata “Employe” yang artinya karyawan/tenaga kerja/buruh.
- S = singkatan dari “Self-Employe” yang artinya orang yang bekerja sendiri alias kerja mandiri atau S bisa disebut juga “Small Busines Owner yang artinya pengusaha kecil”
Kuadran kiri disebut juga dengan kuadran zona aman.
B. Kuadran kanan terdiri dari:
- B = singkatan dari “Business Owner” yang identik dengan “Big Business” yang artinya pemilik bisnis, bisnis besar.
- I = Investasi yang artinya adalah menanam modal.
Kuadran kanan disebut juga kuadran zona bebas.
Saya akan menjelaskan mengenai informasi kuadran E.
Robert berkata (2008 : 29),
“Cara mengetahui anda berada di kuadran mana ditentukan dari kuadran mana uang anda bersumber. Dengan kata lain, kalau anda menerima penghasilan dari sebuah pekerjaan dan anda menerima gaji tetap dari perusahaan atau bisnis yang bukan milik anda, maka uang akan mengalir keluar dari kuadran E.”
Orang seperti ini mengandalkan keamanan finansial dan keterjaminan dengan tunjangan-tunjangan. Sifat dari pekerja alias dari kuadran E biasannya adalah manja secara finansial.
Lalu menjelaskan mengenai kuadran S.
Robert Kiyosaki berkata (2008 : 29), “
Kalau anda hidup dari komisi atau menerima uang dari pekerjaan yang dihitung per jamnya, maka anda mungkin berada dalam kuadran S. kebanyakan wiraniaga yang mendapat komisi langsung, seperti agen real estat, adalah dari kuadran S.”
Lanjut Robert (2008 : 29), “Kuadran S bisa juga termasuk para profesional seperti pengacara dan dokter.”
Orang dari kuadran S adalah: penjahit, tukang servis, tukang bangunan, dai, seniman, dll
Orang yang berasal dari kuadran S biasanya orang yang mandiri secara finansial karena dapat uang atau tidak tergantung kegigihan dia mencari uang. Semakin gigih mencari uang bisa meningkat keuangannya walau dalam segi waktu semakin tidak punya waktu untuk hal lain.
Kuadran S bisa juga kuadran untuk kelas bisnis kecil yang melakukan aktifitas bisnis secara langsung alias terlibat langsung dalam aktifitas bisnis
Tetapi ada kendala, Robert menjelaskan bahwa dalam informasi bisnis ada yang namanya bisnis kecil dan ada yang namanya bisnis besar. Kedua bisnis itu berada pada kuadran yang berbeda.
Setelah E dan S sudah saya jelaskan, gilirannya menjelaskan kuadran kanan yaitu B dan I.
Robert Kiyosaki berkata (2008 : 30),
“Kalau penghasilan anda berasal dari bisnis yang anda tidak perlu terlibat, maka anda berada di kuadran ‘B’. kalau penghasilan anda berasal dari investasi, maka anda berada di kuadran ‘I’. kalau penghasilan anda berasal dari renacna pensiun perusahaan atau pemerintah, maka kemungkinannya adalah penghasilan lebih dari kuadran E. Mungin juga seserang menerima penghasilan lebih dari satu kuadran.”
Orang yang berasal dari kuadran “B” adalah orang yang mandiri secara finansial sama halnya orang dari kuadran “S”. bedanya adalah kalau orang kuadran B lebih punya banyak waktu walau punya beberapa bisnis besar.
Sedangkan orang dari kuadran “I” lebih kepada orang yang malas secara finansial. Artinya ingin mendapatkan uang tidak mau berusaha karena memang uang investasi akan sendirinya menghasilkan uang untuk si pemilik investasi tersebut.
Sekarang, saya akan memberikan informasi bisnis kecil dan besar.
Apa sih perbedaan antara bisnis kecil dan bisnis besar? Saya sendiri masih bingung dari pendapat Kiyosaki karena informasi menunjukkan bahwa banyak bisnis kecil tetapi berjalan tanpa perlu terlibat langsung.
Seperti bisnis milik tetangga saya yang kerja kantoran. Ia membuka kios untuk bisnis yang kerjanya mengenai rental komputer, jasa ketik, cetak foto, foto kopy. Bisnisnya pun diurus beberapa sodaranya tanpa perlu melibatkan si pemilik usaha.
Menurut Robert (2008 : 30) mengatakan bahwa pengusaha pemilik bisnis besar bisa meninggalkan usahanya selama satu tahun atau lebih dan ketika kembali mendapati bisnisnya semakin lancar. Lalu ia membandingkan dengan pengusaha pemilik bisnis kecil yang konon bisnis kecil tidak bisa ditinggal oleh pemiliknya karena masih butuh untuk terlibat langsung.
Yang jelas saya memiliki pendapat sendiri, bisnis besar adalah memiliki sistem-sistem bisnis yang terorganisir. Artinya ada ada sistem penerimaan karyawan, sistem aturan, sistem pengangkatan jabatan, sistem pemecatan, sistem gaji, dan sistem-sistem lain yang terorganisir.
Sedangkan bisnis kecil adalah memiliki sistem yang tidak terorganisir. Memang punya karyawan tetapi belum tentu karyawan hasil seleksi. Bisa saja saudara sendiri dimasukkan semua secara sukarela.
Referensi: Robert T Kiyosaki, Business School, Terj, Gramedia, Jakarta, 2008
Sabtu, 16 Februari 2013
Kuadran Big Business Dan Karakter Kuadrannya
Robert T Kiyosaki (2007 : 34) berkata bahwa kelompok kuadran B alias kelompok para pebisnis besar adalah hampir dikatakan sebagai lawan S (pekerja mandiri). Seorang B (pebisnis) sejati senang mengitari diri mereka sendiri dengan orang-orang pandai dari ke empat kuadran: E, S, B dan I (silahkan baca: Cashflow Quadrant).
Moto seorang B alias pebisnis besar adalah, “Kalau bisa menyewa orang lain, kenapa melakukannya sendiri?”
Karakter seorang B membuat segala pekerjaan dikerjakan oleh orang lain. Dengan begitu bila karakter ini terlalu ektrim dan banyak yang memiliki karakter ini maka nyaris tidak ada orang yang memiliki keterampilan kerja. Itu artinya, siapa yang akan melakukan?
Semua orang ingin “dilakukan” sehingga menimbulkan rasa malas dalam mempelajari keterampilan kerja. Dampak yang terjadi adalah sektor bisnis terlalu sesak persaingan dan minimnya pekerja. Akhirnya mau tidak mau, negara harus mengimpor pekerja dari negara lain.
Ada baiknya karakter pekerja dan pekerja mandiri harus tetap berada pada jiwa pebisnis sehingga ada keseimbangan.
Karena bisa juga kan seorang karyawan memiliki bisnis dan seorang pebisnis adalah seorang pekerja walau status kerja-nya bukan seperti pekerja lain.
Walau terkesan “MALAS” dalam hal memikirkan keterampilan kerja, seorang pebisnis sebenarnya lebih senang dalam hal pekerjaan “berpikir” untuk memikirkan perkembangan bisnis dan hidupnya.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Apa sih yang dikerjakan pebisnis kalau semua pekerjaan sudah diserahkan pada orang yang ahli?”
Maka jawabanya adalah “BERPIKIR”.
Ada sebuah cerita dari buku Cashflow Quadran (2007 : 35) bahwa ada sekelompok orang yang katanya mengaku sebagai kelompok cerdik-pandai datang untuk menghakimi Henry Ford karena menurut mereka ia seorang yang “BODOH.” Karena itu, Ford mengundang sekelompok itu ke dalam kantornya dan menantang mereka untuk mengajukkan pertanyaan padanya dan ia akan akan menjawabnya.
Setelah pertanyaan diajukkan kepada Ford, menurut anda bagaimana Ford menjawab pertanyaannya itu?
Salah. Tetapi Ford hanya meraih telepon untuk menghubungi seorang asisten ahli dalam menjawab pertanyaan yang diajukkan. Ford menginginkan agar jawabanya sesuai yang diinginkan si penanya.
Kenapa Henry menyuruh asisten ahli untuk menjawab pertanyaan? Tujuannya agar bisa mengosongkan pikiran untuk melakukan tugas-tugas yang lebih penting yaitu tugas-tugas berpikir.
Karena menurut Henry Ford (2007), “Berpikir adalah pekerjaan tersulit di dunia. Itu sebabnya hanya sedikit orang yang melakukannya”
Itulah kenapa (kurang lebih) Einsten mengakatan bahwa berpikir bisa membuat seseorang lelah sampai ke sel-sel terkecil. Kurang lebih begitu.
Tugas pebisnis sebenarnya berat yaitu berpikir untuk kepentingan bisnis. Hanya saja kelihatannya malas dan masa bodoh. Tetapi memang sebagian pebisnis memang malas dan memang harus malas karena segala kegiatan bisnis dilakukan oleh pegawai.
Hal yang paling penting adalah, keseimbangan keterampilan kerja dan bisnis.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Moto seorang B alias pebisnis besar adalah, “Kalau bisa menyewa orang lain, kenapa melakukannya sendiri?”
Karakter seorang B membuat segala pekerjaan dikerjakan oleh orang lain. Dengan begitu bila karakter ini terlalu ektrim dan banyak yang memiliki karakter ini maka nyaris tidak ada orang yang memiliki keterampilan kerja. Itu artinya, siapa yang akan melakukan?
Semua orang ingin “dilakukan” sehingga menimbulkan rasa malas dalam mempelajari keterampilan kerja. Dampak yang terjadi adalah sektor bisnis terlalu sesak persaingan dan minimnya pekerja. Akhirnya mau tidak mau, negara harus mengimpor pekerja dari negara lain.
Ada baiknya karakter pekerja dan pekerja mandiri harus tetap berada pada jiwa pebisnis sehingga ada keseimbangan.
Karena bisa juga kan seorang karyawan memiliki bisnis dan seorang pebisnis adalah seorang pekerja walau status kerja-nya bukan seperti pekerja lain.
Walau terkesan “MALAS” dalam hal memikirkan keterampilan kerja, seorang pebisnis sebenarnya lebih senang dalam hal pekerjaan “berpikir” untuk memikirkan perkembangan bisnis dan hidupnya.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Apa sih yang dikerjakan pebisnis kalau semua pekerjaan sudah diserahkan pada orang yang ahli?”
Maka jawabanya adalah “BERPIKIR”.
Ada sebuah cerita dari buku Cashflow Quadran (2007 : 35) bahwa ada sekelompok orang yang katanya mengaku sebagai kelompok cerdik-pandai datang untuk menghakimi Henry Ford karena menurut mereka ia seorang yang “BODOH.” Karena itu, Ford mengundang sekelompok itu ke dalam kantornya dan menantang mereka untuk mengajukkan pertanyaan padanya dan ia akan akan menjawabnya.
Setelah pertanyaan diajukkan kepada Ford, menurut anda bagaimana Ford menjawab pertanyaannya itu?
Salah. Tetapi Ford hanya meraih telepon untuk menghubungi seorang asisten ahli dalam menjawab pertanyaan yang diajukkan. Ford menginginkan agar jawabanya sesuai yang diinginkan si penanya.
Kenapa Henry menyuruh asisten ahli untuk menjawab pertanyaan? Tujuannya agar bisa mengosongkan pikiran untuk melakukan tugas-tugas yang lebih penting yaitu tugas-tugas berpikir.
Karena menurut Henry Ford (2007), “Berpikir adalah pekerjaan tersulit di dunia. Itu sebabnya hanya sedikit orang yang melakukannya”
Itulah kenapa (kurang lebih) Einsten mengakatan bahwa berpikir bisa membuat seseorang lelah sampai ke sel-sel terkecil. Kurang lebih begitu.
Tugas pebisnis sebenarnya berat yaitu berpikir untuk kepentingan bisnis. Hanya saja kelihatannya malas dan masa bodoh. Tetapi memang sebagian pebisnis memang malas dan memang harus malas karena segala kegiatan bisnis dilakukan oleh pegawai.
Hal yang paling penting adalah, keseimbangan keterampilan kerja dan bisnis.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Selasa, 15 Januari 2013
4 Cashflow Quadrant ala Robert T Kiyosaki yang Membahas 4 Arus Uang
Gambar di samping (klik gambar untuk memperbesar) adalah yang disebut Cashflow Quadrant menurut Robert T Kiyosaki dalam buku The Cashflow Quadrant. Pejelasannya seperti ini.
A. Kuadran kiri terdiri dari:
B. Kuadran kanan terdiri dari:
Sedangkan penjelasan Cashflow Quadrant seperti ini:
Kuadran E:
Orang dari kuadran E ini mengandalkan dari gaji dan keterjaminan dengan tunjangan-tunjangan.
Menurut Robert (2007 : 31) kata “aman” adalah sebuah kata yang sering digunakan kuadran E sebagai reaksi terhadap emosi takut. Bagi mereka, keamanan finansial meruakan hal paling penting dariada uang.
Orang dari kuadran E adalah: karyawan, direktur, manajer, guru pns, OB, dll.
Kuadran S:
Kalau kuadran S hidup dari komisi atau menerima uang dari pekerjaan yang dihitung per jamnya atau per hari atau per selesai jasa.
Sifat dari kuadran S (2007 : 32) adalah mereka ingin menjadi bos mereka sendiri sehingga apa yang dilakukan adalah sesuai dengan kemauan dirinya sendiri. Sehingga orang dengan tipe ini sulit untuk bekerjasama dengan orang lain karena memang jiwanya yang mandiri, dan jiwa yang bebas.
Orang dari kuadran S adalah: penjahit, tukang servis, tukang bangunan, dai, seniman, dll
Kuadran B:
Penghasilan berasal dari bisnis yang anda tidak perlu terlibat langsung dalam operasional bisnis.
Seorang B sejati senang mengitari diri mereka sendiri bersama orang-orang pandai dari empat kategori yaitu seperti kuadran E, kuadran S, kuadran B dan terakhir kuadran I. seorang B sejati juga suka mendelegasikan pekerjaan. (2007 : 35)
Moto sejati B (2007 : 35) adalah, “kenapa melakukan sendiri kalau memang bisa menyewa orang lain untuk melakukannya bagimu, dan mereka bisa melakukannya dengan baik.”
Kuadran I:
Penghasilan kuadran “I” berasal dari investasi alias dari hasil menanamkan modal.
Menurut Robert Kiyosaki, “Investor membuat uang dengan uang. Mereka tak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka.”
Perhatian!
4 kuadran versi saya adalah membuang S yang sebagai Small Busines dan pindah ke kuadran B. Ya agar berbeda saja dari 4 kuadran Robert T Kiyosaki.
Karena kita tahu bahwa yang namanya bisnis ada bisnis besar, sedang dan kecil. Begitu juga pekerja mandiri, ada pekerja amatiran (karena hobi) atau pekerja profesional. Investasi juga ada investasi kelas miskin dan kelas kaya. Pekerja pun ada tingkatannya mulai dari rendahan samapai atasan.
Sehingga alangkah baiknya bila bagian bisnis diletakkan dibagian kuadran B.
Tentu penjelasannya akan bertentangan dengan Robert T Kiyosaki dalam segi sifat masing-masing kuadran. Dan silahkan anda memahami sendiri maksudnya :)
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
A. Kuadran kiri terdiri dari:
- E = singkatan dari kata “Employe” yang artinya karyawan/tenaga kerja/buruh.
- S = singkatan dari “Self-Employe” yang artinya orang yang bekerja sendiri alias kerja mandiri atau S bisa disebut juga “Small Busines Owner yang artinya pengusaha kecil”
B. Kuadran kanan terdiri dari:
- B = singkatan dari “Business Owner” yang identik dengan “Big Business” yang artinya pemilik bisnis, bisnis besar.
- I = Investasi yang artinya adalah menanam modal.
Sedangkan penjelasan Cashflow Quadrant seperti ini:
Kuadran E:
Orang dari kuadran E ini mengandalkan dari gaji dan keterjaminan dengan tunjangan-tunjangan.
Menurut Robert (2007 : 31) kata “aman” adalah sebuah kata yang sering digunakan kuadran E sebagai reaksi terhadap emosi takut. Bagi mereka, keamanan finansial meruakan hal paling penting dariada uang.
Orang dari kuadran E adalah: karyawan, direktur, manajer, guru pns, OB, dll.
Kuadran S:
Kalau kuadran S hidup dari komisi atau menerima uang dari pekerjaan yang dihitung per jamnya atau per hari atau per selesai jasa.
Sifat dari kuadran S (2007 : 32) adalah mereka ingin menjadi bos mereka sendiri sehingga apa yang dilakukan adalah sesuai dengan kemauan dirinya sendiri. Sehingga orang dengan tipe ini sulit untuk bekerjasama dengan orang lain karena memang jiwanya yang mandiri, dan jiwa yang bebas.
Orang dari kuadran S adalah: penjahit, tukang servis, tukang bangunan, dai, seniman, dll
Kuadran B:
Penghasilan berasal dari bisnis yang anda tidak perlu terlibat langsung dalam operasional bisnis.
Seorang B sejati senang mengitari diri mereka sendiri bersama orang-orang pandai dari empat kategori yaitu seperti kuadran E, kuadran S, kuadran B dan terakhir kuadran I. seorang B sejati juga suka mendelegasikan pekerjaan. (2007 : 35)
Moto sejati B (2007 : 35) adalah, “kenapa melakukan sendiri kalau memang bisa menyewa orang lain untuk melakukannya bagimu, dan mereka bisa melakukannya dengan baik.”
Kuadran I:
Penghasilan kuadran “I” berasal dari investasi alias dari hasil menanamkan modal.
Menurut Robert Kiyosaki, “Investor membuat uang dengan uang. Mereka tak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka.”
Perhatian!
4 kuadran versi saya adalah membuang S yang sebagai Small Busines dan pindah ke kuadran B. Ya agar berbeda saja dari 4 kuadran Robert T Kiyosaki.
- E = singkatan dari kata “Employe” yang artinya karyawan/tenaga kerja/buruh.
- S = singkatan dari “Self-Employe” yang artinya orang yang bekerja sendiri alias kerja mandiri.
- B = singkatan dari “Business”.
- I = Investasi yang artinya adalah menanam modal.
Karena kita tahu bahwa yang namanya bisnis ada bisnis besar, sedang dan kecil. Begitu juga pekerja mandiri, ada pekerja amatiran (karena hobi) atau pekerja profesional. Investasi juga ada investasi kelas miskin dan kelas kaya. Pekerja pun ada tingkatannya mulai dari rendahan samapai atasan.
Sehingga alangkah baiknya bila bagian bisnis diletakkan dibagian kuadran B.
Tentu penjelasannya akan bertentangan dengan Robert T Kiyosaki dalam segi sifat masing-masing kuadran. Dan silahkan anda memahami sendiri maksudnya :)
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Anti Cari Kerja Demi Mewujudkkan Kebebasan Finansial
Sebelumnya, saya ingin menceritakan mengenai kisah tragis dari kehidupan Robert T Kiyosaki setelah mengalami kebangkrutan bisnis.
Pada tahun 1985, Robert T Kiyosaki bersama istrinya, Kim tidak punya lagi tempat tinggal dan hanya tinggal di dalam sebuah Toyota cokelat usang yang memang bisa digunakan untuk tempat tidur. Mereka tidak punya pekerjaan dan hanya sedikit sisa tabungan yang mereka punya (2007 : 11). Kenyataan pahit sudah mereka alami.
Robert Kiyosaki (2007 : 11) berkata, “Ketiga teman dan keluarga diberitahu tentang kesulitan kami, pertanyaan pertama mereka, ‘Kok kalian tidak cari kerja?’.”
Robert pun menjelaskan kenapa ia tidak ada niatan untuk cari kerja dan bekerja di tempat yang layak. Walau sia-sia saja menjelaskan kepada teman dan keluarga mengenai alasan tidak cari kerja: yaitu ingin membangun bisnis besar dan bebas secara finansial.
Walau tidak cari kerja, tetapi kadang melakukan pekerjaan serabutan cuma sekedar mempertahankan hidup dan menghidupkan mobil.
Memang bagi Robert dan Kim tidak sulit bila mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi yang aman dan terjamin. Karena mereka lulusan perguruan tinggi dengan kemampuan kerja yang bagus.
Tetapi tidak pekerjaan yang di cari Robert dan Kim, tetapi kebebasan. Bila menyangkut kebebasan finansial maka tidak lain harus berada pada kuadran kanan yang memang berisi tentang kuadran B dan I (bisnis dan investasi).
Pada tahun 1989, Robert T Kiyosaki dan Kim sudah menjadi jutawan kembali dari bisnis baru setelah kebangkrutan bisnis sebelumnya. Tahun 1994, mereka mencapai yang mereka inginkan yaitu kebebasan finansial.
Hanya butuh waktu kurang lebih 9 tahunan untuk bebas finansial yaitu dengan menerjuni dunia bisnis dan menjual bisnis itu. Setelah bebas finansial, ia lebih aktif melakukan investasi kelas kaya.
Dari cerita di atas, sanggupkah anda anti kerja demi bisnis?
Saya yakin bagi yang belum punya keterampilan alias pendidian bisnis dan investasi tidak akan sanggup untuk tidak kerja demi bisnis.
Dunia kerja dengan dunia bisnis memang beda. Kerja dengan keamanan finansialnya (walau tidak pasti aman), jaminannya, dan kepastiannya. Tetapi bisnis dengan harapan-harapannya, dan ketidakpastiannya. Itulah sebabnya kenapa banyak orang yang ingin kerja daripada bisnis.
Tetapi bila kita membaca kisah kecil Robert yang sudah dididik tentang bisnis dan investasi, maka sangat masuk akal bila Robert lebih memilih tidak kerja karena memang sudah dibekali kemampuan bisnis.
Sehingga solusi untuk orang yang ingin menggunakan kata “Anti Kerja Demi Bisnis” harus memiliki pengetahuan terlebih dahulu mengenai bisnis. Pengetahuan yang dimiliki adalah pengetahuan rill alias hasil pengalaman-pengalaman.
Saya pernah membaca kisah seseorang berinisial JK S yang terjun ke dunia bisnis internet di tahun 2000 dalam keadaan gaptek dan modal sedikit. Padahal tahun itu belum terkenal masalah bisnis internet alias bisnis online. Belum lagi masalah gaptek yang masih melekat padanya.
Tetapi ia memaksakan diri untuk terjun ke dunia bisnis online sampai rela keluar dari kerjaannya DEMI BISNIS. Setahun mengurusi bisnis, kemudian ia pun sukses. Aneh? Memang Aneh!
Pas saya telusuri, eh ternyata ia sudah pengalaman dalam bisnis pemasaran jaringan dan sukses menjadi jutawan walau perusahaannya bangkrut, dan bisnis yang lain. Ia pun memiliki teman yang sudah pandai dalam teknologi. Intinya ia memiliki modal pengetahuan.
Bagi anda yang ingin membangun bisnis anda sendiri dalam keadaan masih kerja, jangan lepaskan pekerjaan anda hanya karena demi bisnis.
Bila pengalaman dan pengetahuan bisnis anda masih sedikit, justru akan membuat jiwa pekerja anda terkoyak dan anda sendiri yang menderita gara-gara keluar kerja demi bisnis.
Bangunlah bisnis anda sendiri saat dalam keadaan masih kerja di suatu perusahaan atau lembaga. Baru bila kondisi bisnis sudah lancar dan menghasilkan keuntungan yang mencukupi kebutuhan anda, barulah keluar dari kerja demi bisnis.
Setelah anda hanya fokus mengurusi bisnis, bangunlah bisnis lebih besar lagi atau bangun bisnis lebih banyak lagi dengan membuat sistem bisnis agar anda tidak banyak mengurusi bisnis. Inilah cara terbaik.
Bila bisnis anda sudah menghasilkan pasif income, barulah anda benar-benar membangun aset-aset lain selain di bisnis yang membuat anda bebas finansial.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Pada tahun 1985, Robert T Kiyosaki bersama istrinya, Kim tidak punya lagi tempat tinggal dan hanya tinggal di dalam sebuah Toyota cokelat usang yang memang bisa digunakan untuk tempat tidur. Mereka tidak punya pekerjaan dan hanya sedikit sisa tabungan yang mereka punya (2007 : 11). Kenyataan pahit sudah mereka alami.
Robert Kiyosaki (2007 : 11) berkata, “Ketiga teman dan keluarga diberitahu tentang kesulitan kami, pertanyaan pertama mereka, ‘Kok kalian tidak cari kerja?’.”
Robert pun menjelaskan kenapa ia tidak ada niatan untuk cari kerja dan bekerja di tempat yang layak. Walau sia-sia saja menjelaskan kepada teman dan keluarga mengenai alasan tidak cari kerja: yaitu ingin membangun bisnis besar dan bebas secara finansial.
Walau tidak cari kerja, tetapi kadang melakukan pekerjaan serabutan cuma sekedar mempertahankan hidup dan menghidupkan mobil.
Memang bagi Robert dan Kim tidak sulit bila mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi yang aman dan terjamin. Karena mereka lulusan perguruan tinggi dengan kemampuan kerja yang bagus.
Tetapi tidak pekerjaan yang di cari Robert dan Kim, tetapi kebebasan. Bila menyangkut kebebasan finansial maka tidak lain harus berada pada kuadran kanan yang memang berisi tentang kuadran B dan I (bisnis dan investasi).
Pada tahun 1989, Robert T Kiyosaki dan Kim sudah menjadi jutawan kembali dari bisnis baru setelah kebangkrutan bisnis sebelumnya. Tahun 1994, mereka mencapai yang mereka inginkan yaitu kebebasan finansial.
Hanya butuh waktu kurang lebih 9 tahunan untuk bebas finansial yaitu dengan menerjuni dunia bisnis dan menjual bisnis itu. Setelah bebas finansial, ia lebih aktif melakukan investasi kelas kaya.
Dari cerita di atas, sanggupkah anda anti kerja demi bisnis?
Saya yakin bagi yang belum punya keterampilan alias pendidian bisnis dan investasi tidak akan sanggup untuk tidak kerja demi bisnis.
Dunia kerja dengan dunia bisnis memang beda. Kerja dengan keamanan finansialnya (walau tidak pasti aman), jaminannya, dan kepastiannya. Tetapi bisnis dengan harapan-harapannya, dan ketidakpastiannya. Itulah sebabnya kenapa banyak orang yang ingin kerja daripada bisnis.
Tetapi bila kita membaca kisah kecil Robert yang sudah dididik tentang bisnis dan investasi, maka sangat masuk akal bila Robert lebih memilih tidak kerja karena memang sudah dibekali kemampuan bisnis.
Sehingga solusi untuk orang yang ingin menggunakan kata “Anti Kerja Demi Bisnis” harus memiliki pengetahuan terlebih dahulu mengenai bisnis. Pengetahuan yang dimiliki adalah pengetahuan rill alias hasil pengalaman-pengalaman.
Saya pernah membaca kisah seseorang berinisial JK S yang terjun ke dunia bisnis internet di tahun 2000 dalam keadaan gaptek dan modal sedikit. Padahal tahun itu belum terkenal masalah bisnis internet alias bisnis online. Belum lagi masalah gaptek yang masih melekat padanya.
Tetapi ia memaksakan diri untuk terjun ke dunia bisnis online sampai rela keluar dari kerjaannya DEMI BISNIS. Setahun mengurusi bisnis, kemudian ia pun sukses. Aneh? Memang Aneh!
Pas saya telusuri, eh ternyata ia sudah pengalaman dalam bisnis pemasaran jaringan dan sukses menjadi jutawan walau perusahaannya bangkrut, dan bisnis yang lain. Ia pun memiliki teman yang sudah pandai dalam teknologi. Intinya ia memiliki modal pengetahuan.
Bagi anda yang ingin membangun bisnis anda sendiri dalam keadaan masih kerja, jangan lepaskan pekerjaan anda hanya karena demi bisnis.
Bila pengalaman dan pengetahuan bisnis anda masih sedikit, justru akan membuat jiwa pekerja anda terkoyak dan anda sendiri yang menderita gara-gara keluar kerja demi bisnis.
Bangunlah bisnis anda sendiri saat dalam keadaan masih kerja di suatu perusahaan atau lembaga. Baru bila kondisi bisnis sudah lancar dan menghasilkan keuntungan yang mencukupi kebutuhan anda, barulah keluar dari kerja demi bisnis.
Setelah anda hanya fokus mengurusi bisnis, bangunlah bisnis lebih besar lagi atau bangun bisnis lebih banyak lagi dengan membuat sistem bisnis agar anda tidak banyak mengurusi bisnis. Inilah cara terbaik.
Bila bisnis anda sudah menghasilkan pasif income, barulah anda benar-benar membangun aset-aset lain selain di bisnis yang membuat anda bebas finansial.
Referensi: Robert T Kiyosaki, The Cashflow Quadrant, Terj, Gramedia, Jakarta, 2007
Langganan:
Komentar (Atom)









